Rabu, 26 April 2017

pantai jetis indah ~ cilacap




seperti yang sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya, saat di pantai Ayah - Kebumen, kita bisa menyeberang menggunakan perahu menuju ke pantai Jetis Indah - Cilacap kalau tidak salah dengan membayar sebesar Rp. 50.000,- tiap orang (aku pada saat itu) tetapi saat kita berada di pantai Jetis Indah kita tidak diijinkan untuk bermain air karena hal itu mungkin sudah menjadi peraturan antar kedua wilayah tersebut yang dimungkinkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di pantai Jetis Indah ini selain bermain air adalah memancing. kegiatan memancing ini  bisa dilakukan di atas batu pemecah ombak , hal itu yang banyak dilakukan oleh para pengunjung di panti Jetis Indah ini.


pantai Jetis Indah yang terletak di desa Jetis Kecamatan Nusawungu kabupaten Cilacap ini mempunyai pesona alam yang cukup bagus dengan ombak yang cukup besar, yang berhasil aku rekam di foto-foto di bawah ini...

















berbeda dengan di pantai Ayah, di pantai Jetis Indah ini kita bisa berjalan-jalan mengitari lokasi pantai karena di pantai Jetis Indah ini terdapat banyak penjual buah tangan dan terdapat sebuah pasar yang menjual berbagai oleh-oleh yang terbuat dari ikan hasil tangkapan laut penduduk sekitar , buah-buahan, cendera mata bahkan ikan segar dimana kita bisa membeli sekaligus memasak ikan yang kita beli disitu.
dan hal itu tidak kami lewatkan begitu saja, setelah kita puas berfoto-foto di atas batu pemecah ombak, lalu kami berjalan-jalan mengitari pantai Jetis Indah untuk sekedar membeli oleh-oleh sekaligus makan siang.

untuk harga ikan di pantai Jetis Indah ini sekaligus memasaknya terbilang cukup murah untuk ukuran kami , wisatawan dari Semarang jika dibandingkan dengan harga di tempat wisata lain yang sudah kami kunjungi (baik di Semarang maupun di daerah lain) jadi rasanya tidak menyesal telah berkunjung ke pantai Jetis Indah ini karena harga-harga yang dijual sangat murah dan kita bisa membeli oleh-oleh dengan rasa yang murah dan rasanya tidak mengecewakan.

berikut beberapa foto di pasar ikan di pantai Jetis Indahc- Cilacap



aneka macam ikan hasil tangkapan nelayan

ikan hiu kecil


salah satu sudut di TPI pantai Jetis Indah

mas Wempi di sebuah sudut TPI pantai Jetis Indah



^^


Rabu, 19 April 2017

berperahu di pantai Ayah (pantai Logending)






setelah menghadiri resepsi pernikahan salah seorang teman kerja di Purwokerto sekaligus perpisahan dengan GM di tempat kami bekerja selama ini yang bernama Shella Putri Nadya Natasha , kami belum mempunyai rencana untuk rekreasi kemana sembari pulang ke Semarang.

Oya informasi sebelumnya, saat kami menginap di Purwokerto , kami menginap di sebuah penginapan yang sangat bersih dan enak suasananya yaitu penginapan Karang Salam, dimana kamarnya sangat bersih dan tarifnya sangat murah untuk ukuran kami yang perginya hanya bermodal seadanya ala-ala backpacker, hehehee...
untuk tarif kamar segitu, sudah sangat cukup bagi kami karena di pagi harinya kami mendapat sarapan dengan menu serta rasanya enak bagi lidah kami meskipun hanya masakan rumahan biasa.

untuk penginapan Karang Salam ini, sangat mudah dicari di internet karena kami mendapatkan informasi mengenai penginapan Karang Salam juga dari internet.

  selesai sarapan lalu kami mencoba mencari obyek wisata yang kiranya dekat dengan Purwokerto dan juga tidak terlalu jauh menuju Semarang lalu akhirnya kami memutuskan untuk ke Kebumen.
sekitar pk.07:30 kami berangkat menuju ke Kebumen karena kami belum tau jalan menuju ke Kebumen dan kami tidak ingin sampai di Semarang terlalu malam.

awalnya kami memutuskan akan ke pantai Menganti tetapi nggak tau kenapa ketika sampai di pantai Ayah lalu kami berhenti dan memutuskan untuk masuk ke pantai Ayah ini...
untuk menyeberang dari pantai Ayah Kebumen menuju pantai Jetis Indah Cilacap, kita bisa menyewa perahu , seperti yang nampak pada foto-foto berikut ini...














sedangkan foto-foto di bawah ini aku ambil di atas batu pemecah ombak sekaligus pemisah antara pantai Ayah dengan pantai Jetis Indah.












^^



Senin, 17 April 2017

keseruan di kawasan Dieng




sebenernya ini foto sudah cukup lama karena aku ke Dieng itu tahun kemarin tepatnya 3 Desember 2016 lalu tapi baru sempet posting sekarang, hehehee...

sudah lama sekali aku pengen wisata ke Dieng tapi belum sempat dan baru kemarin sempat, itupun karena ada acara pernikahan salah seorang teman kerja di  Purwokerto dan kami rencanakan berangkatnya mampir ke Dieng karena kebetulan kami belum pernah berwisata ke Dieng.
perjalanan menuju ke kawasan Dieng sangat menyenangkan karena selain udaranya yang dingin dan sejuk segar tentu saja, jalanannya juga berkelok-kelok , di kanan kiri terhampar pemandangan yang indah dengan perkebunan masyarakat daerah Dieng yang sedap dipandang mata.


kami berangkat dari Semarang mengendarai mobil sendiri berjumlah 5 orang karena memang team kerjaku 5 orang itu...
Nggak tanggung-tanggung, kami berangkat dari Semarang pk. 02.:00 dini hari dan sampai di Dieng sekitar pk .06:00.
namanya juga Dieng yang berada di daerah dataran tinggi dan sering mendapat julukan Negeri di Atas Awan nya Jawa Tengah itu... tentu hawanya dingin sekali dan tidak pernah terpikirkan oleh kami jika dinginnya sangat dingin, sampai-sampai kami ngomong aja keluar udaranya seperi musim dingin di luar negeri sana, heheheee..... *maklum ndesoooo*


dinginnya udara di Dieng ketika kami menginjakkan kaki di daerah Dieng terekam dari foto-foto berikut....




















sepuas kami berfoto-foto di pintu masuk kawasan Dieng kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kawah Sikidang.
karena kami tiba masih terlalu pagi dan saat musim penghujan, maka yang kami dapatkan hanyalah kabut, kabut dan kabut saja serta rintik hujan yang sesekali turun di daerah kawah Sikidang dan sekitarnya.
mau motret nggak bisa karena pandangan terhalang kabut dan hanya beberapa foto saja yang dapat terekam dalam kamera hp....





selepas dari kawah Sikidang, kami melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna setelah sebelumnya mengisi perut dahulu alias sarapan dan minum yang hangat-hangat di dekat pintu masuk Telaga Warna.
karena kami tiba kepagian, maka sarapan yang siap hanyalah mie instant karena penjualnya belum belanja.
berhubung hawa dingin yang membuat lapar, mie instant pun tetap masuk ke dalam perut untuk mengganjal perut yang lapar, heheheee.....




nggak tau kenapa ketika kami masuk ke dalam Telaga Warna airnya hanya hijau begini saja ya...
apa karena belum ada matahari atau pas musim hujan ya ?






















^^


Minggu, 09 April 2017

pantai logending (pantai ayah) ~ kebumen




awalnya kami akan berwisata ke pantai  Menganti tetapi karena jarak yang terlalu jauh maka akhirnya kami memutuskan untuk ke pantai Logending atau pantai Ayah saja yang jaraknya lebih dekat.
aku dulu pernah berwisata ke pantai Ayah saat perpisahan kelas 6 SD (lupa tahun berapa) dan ketika kemarin aku ke pantai Ayah sudah berubah sama sekali.
dulu aku bisa bermain air di pantai Ayah tetapi sekarang sudah tidak bisa dan di tengahnya diberi barisan bebatuan sebagai pemecah ombak sekaligus pembatas wilayah antara kawasan Kebumen dan Cilacap.



pantai Ayah disebut juga pantai Logending , nama Logending berasal dari kata Lo dan Gending. Lo adalah nama sebuah pohon yang kayunya dapat diracik menjadi alat musik Jawa yang dalam bahasa Jawa disebut Gending, keduanya digabungkan menjadi kata Logending.

obyek wisata pantai Ayah ini cukup terkenal karena  memadukan antara wisata hutan dengan wisata bahari, yaitu hutan Wisata Logending dan pantai Ayah  dimana pantai Logending atau pantai Ayah ini terletak di desa Ayah kecamatan Ayah kabupaten Kebumen yang berbatasan dengan kabupaten Cilacap dan berjarak sekitar 53 km dari kota Kebumen dan sekitar 8 km dari objek wisata Gua Jatijajar atau 10 menit dengan kendaraan pribadi. .
 
dari kondisinya yang berada di antara Laut Selatan dengan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH Kedu selatan ini , pantai Ayah merupakan kombinasi atau perpaduan antara Pantai dan Hutan,


di pantai Ayah ini, selain kita bisa naik perahu menyeberang ke daerah Cilacap, kita juga bisa berwisata di hutan bakau, tetapi itu tidak kami ambil karena kami lebih suka berperahu menyeberangi pantai Ayah saja dan secara otomatis kita bisa tiba di daerah Cilacap, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, hehehee.....

untuk menyeberang ke daerah Cilacap kita bisa menggunakan perahu yang tersedia di daerah pantai Ayah dengan tarif Rp. 50.000,-/ orang kalau nggak salah dan di sepanjang perjalanan kita bisa melihat pemandangan hutan bakau yang ternyata aku lupa motret karena lebih banyak selfie nya, heheheee....

di bawah ini foto-foto yang aku ambil di atas perahu saat menyeberang ke daerah Cilacap menuju pantai Jetis Legi dan perahu yang kami naiki adalah perahu Jaya Prima lupa nama nahkodanya....











saat kita hendak berwisata ke daerah Cilacap, nahkoda perahu sudah memberi pesan supaya kami tidak bermain air di kabupaten Cilacap kami karena kami adalah pengunjung asli (membeli tiket) di pantai Ayah Kebumen dan hanya sekedar 'bertamu' di kabupaten Cilacap sehingga kita harus mengikuti peraturan yang berlaku di masing-masing wilayah.

sedangkan  foto-foto di bawah ini adalah suasana di  pantai Ayah yang aku ambil dari atas bebatuan pemecah ombak sekaligus perbatasan antara kabupaten Kebumen dan kabupaten Cilacap.




















tulisan ini aku ikut sertakan di ajang lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah".



sumber :
wikipedia dan berbagai sumber


^^

Rabu, 05 April 2017

kawah sikidang & telaga warna ~ dieng




Dieng Plateau merupakan sebuah dataran tinggi terindah di pulau Jawa yang terletak pada ketinggian 2.000 mdpl yangi mendapat julukan sebagai Negeri Para Dewa ini memiliki lebih dari 21 tempat wisata alam, diantaranya adalah telaga, kawah, candi, padang savana, mata air, puncak gunung hingga golden sunrise.
wisata alamnya yang asri dan alami dengan nuansa pegunungan ini sesuai bagi kita yang ingin beristirahat melepas penat dari rutinitas yang selama ini kita kerjakan.



Dataran tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo , letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng memiliki ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 12—20 °C di siang hari dan 6—10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa) , maka Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

Dataran tinggi Dieng  adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger , seesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya.
terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya , kondisi ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979 , tidak hanya gas beracun tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor, dan banjir.
selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

kawah aktif di Dieng merupakan kepundan bagi aktivitas vulkanik di bawah dataran tinggi ,  pemantauan aktivitas dilakukan oleh PVMBG melalui Pos Pengamatan Dieng di Kecamatan Karangtengah


Puncak-puncak
  Gunung Sumbing (3.387 m)
 Gunung Sindoro (3.150 m)
 Gunung Prahu (2.565 m)
 Gunung Pakuwaja (2.595 m)
Gunung Sikunir (2.463 m), tempat wisata, dekat Sembungan


Dieng memiliki iklim hangat dan sedang. Hujan sering terjadi di wilayah Dieng, bahkan di musim kemarau. Berdasarkan klasifikasi iklim Köppen, Dieng masuk dalam golongan Cfb. Rata-rata suhu tahunan di Dieng adalah 14.0 °C.



berikut adalah kawah-kawah aktif yang dipantau:
Candradimuka
Sibanteng
Siglagah
Sikendang, berpotensi gas beracun
Sikidang
Sileri
Sinila, berpotensi gas beracun
Timbang, berpotensi gas beracun
Kawah Sibanteng

Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik pada bulan Januari 2009 (15/1) , menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2 km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu.
Kawah Sibanteng pernah pula meletus pada bulan Juli 2003.

Sikidang adalah kawah di dataran tinggi Dieng (DTD) yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa).

Kawah Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (berdasarkan catatan: tahun 1944, 1964, 1984, Juli 2003, dan September 2009). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga celah kawah baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.

Kawah Sinila terletak di antara Desa Batur, Desa Sumberejo, dan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979, tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun mereka terperangkap gas racun yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila. Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

Kawah Timbang adalah kawah yang terletak di dekat Sinila dan beraktivitas sedang. Meskipun kurang aktif, kawah ini merupakan sumber gas CO2 berkonsentrasi tinggi yang memakan ratusan korban pada tahun 1979. Kawah ini terakhir tercatat mengalami kenaikan aktivitas pada bulan Mei 2011 dengan menyemburkan asap putih setinggi 20 meter, mengeluarkan CO2 dalam konsentrasi melebihi ambang aman (1.000 ppm, konsentrasi normal di udara mendekati 400 ppm) dan memunculkan gempa vulkanik. Pada tanggal 31 Mei 2011 pagi, kawah ini kembali melepaskan gas CO2 hingga mencapai 1% v/v (100.000 ppm) disertai dengan gempa tremor. Akibatnya semua aktivitas dalam radius 1 km dilarang dan warga Dusun Simbar dan Dusun Serang diungsikan .










danau vulkanik diantaranya :

Telaga Dringo pada tahun 1937
 Telaga Warna, objek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya
 Telaga Cebong, dekat desa wisata Sembungan
 Telaga Merdada
 Telaga Pengilon
 Telaga Dringo
 Telaga Nila

















di dalam area Telaga Warna, kita dapat menjumpai beberapa bangunan bersejarah yang sayang keterangannya sudah banyak yang hilang atau tidak terawat.
seperti yang nampak dalam foto berikut ini....



























sayangnya Dieng yang terkenal itu menurut aku kurang terpelihara dengan baik.
banyak bangunan / tulisan yang sudah hilang sehingga kita agak susah untuk mengetahui penjelasannya.
seandainya obyek wisata yang ada terutama di daerah Jawa Tengah dipelihara dengan baik terutama masalah kebersihannya, pasti akan lebih banyak lagi wisatawan yang akan berkunjung ke Jawa Tengah, namun semua itu tidak bisa kita serahkan begitu saja kepada pemerintah daerah dan penduduk terkait tetapi harus dari kita sebagai pengunjung yang harus sadar untuk menjaga dan melestarikan kekayaan pariwisata Jawa Tengah khususnya.

tulisan ini sengaja aku ikut sertakan di ajang Lomba Blog Legenda Pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah karena hanya melalui media inilah kita dapat memberikan aspirasi kita untuk memperbaiki dan memperkenalkan obyek wisata yang ada di Jawa Tengah.



sumber :
wikipedia dan dari berbagai sumber


^^